Wednesday, July 20, 2005

Sobek

Pernah nonton Jaws? Disitu ada dramatisasi pamer memamer barat-baret di tubuh. Seperti inilah kira-kira hiperbolanya.
Orang 1: "Liat ini" sambil nunjukin tangan kanannya, "bekas kejadian Indianapolis"
Orang 2: "Yang begituan dipamerin" sambil buka kancing baju bagian atas, "Bekas sambitan ikan Pari!"
Orang 1 menaikkan celana panjang cutbray-nya: "Ini bekas gigitan hiu putih"
Orang 2 nggak mau kalah membuka semua kancing baju nunjukin bagian perutnya, tadaaa sejengkal bekas jahitan: "Bekas gigitan hiu juga"
Orang 3 (pelipur penderita): "Elu berdua nggak waras!"
Dramatisasi di atas bisa-bisanya saya saja, yg pasti saya pernah ngalamin telapak tangan diraba seorang wanita, terus doi ngomong gini, "Ini tangan nggak pernah kerja kasar, halus sekali!" Sedikit kaget, saya raih telapak tangan kirinya. Saya dampingkan dengan telapak tangan kiri kepunyaan saya. Kemudian saya raba dua-duanya dengan tangan kanan, berusaha membandingkan apa-iya tangan saya terlalu halus. Benar saja saudara-saudara, telapak tangan doi lebih kasar. Later on saya jadi curiga, jangan-jangan telapak tangan yg kasar-buntet-menggemaskan itu bukan karena doi suka kerja rumahan, jangan-jangan emang bawaan oroknya begitu hahaha

Sobek /so`bek/ adj. yg biasanya digunakan untuk menunjukan kondisi cacat benda berlembar. Sobek biasanya berkesan negatif, dipandang dari penyebab ataupun hasilnya: kulit orang itu sobek sepanjang 2 cm. Maka kemungkinannya adalah 1 seseorang mengalami kecelakaan (e.g. jatuh dari tangga, tartabrak, ditabrak, menabrak, etc) 2 seseorang adalah korban tindakan kurang ajar orang lain (e.g. ditikam, ditembak, dipukul). Jangan salah, dipukul bisa bikin kulit sobek juga, ini jidat saya baru di-staples dua biji akibat sikutan seseorang. Alhasil wajah saya jadi semakin macho. Jangan tanya modus operandinya seperti apa, malu saya memaparkannya hehehe

Tuesday, July 05, 2005

Musik(alisasi) Identitas

Rock memberi kesan macho. Pop memberi kesan gaul. Dangdut memberi kesan udik. Disko memberi kesan have fun go mad. Jazz memberi kesan eksklusif...


Adalah abang saya yg paling tua yg naga-naganya sangat mempengaruhi pendengaran saya terhadap musik. Dulu jamannya masih piyik, abang saya sudah rajin nge-band kelas kampung yg jujur saja hampir ditunggu kehadirannya di setiap panggung 17 agustus-an . Biasanya bawain lagu-lagu God Bless atau paling banter GnR, dengan judul gacoan semut hitam, bis kota dan sudah tentu sweet child o mine. Gaya panggung rocker jaman beheula berikat kepala plus kaos singlet, diserap dan diikuti mentah-mentah. Gaya Axl Rose berbandana yg biasanya meliuk-liuk saat manggung ditiru juga. Suatu ketika salah satu personil band abang saya ini bertandang ke rumah bawa gitar elektrik warna biru, nunjukin kebolehan tapping-nya Edie Van Helen. Terkagum-kagum, senar cuman dipijit-pijit, kecepatan perpindahan bunyi 3-4 not hampir tak mungkin terlewati bilamana dipetik. Bunyinya terelet-terlet-terelet gituh. Pengennya kursus gitar, tapi apa daya, bokap nyokap selalu tidak mengijinkan dengan nasehat "Jangan pernah ngikutin jejak abang kamu, lihat kuliahnya nggak bener". Padahal alasan sebenernya nggak punya duit hehehe.

Lulus SD ceritanya sekolah ke kota, masuk SMP ketemu teman yg lumayan ahli bermelodi yg kabar burungnya adalah adik dari salah seorang personil Power Metal, makin ngiler! jari-jari adiknya saja sudah lincah apalagi bisa mandang langsung permainan gitar abangnya. Nah, sekolah di kota ternyata booming musik berbeda dari kampung saya, dulu yg ngertinya cuman God Bless, GnR, Beatles atau boleh lah the Police, harus beranjak ke hingar bingar Sex Pistols, Nirvana, Creep, hmm apa lagi yah? Yg pasti kala itu juga lah NKOTB, Jason Donovan dan Tommy Page meroket. Untuk lagu-lagu yg dialunkan oleh tiga nama terkahir itu, cukup didengar saja, jangan pernah didiskusikan, mana ada cowok demen musik begituan? hehehe masih mending ngafalin lirik You can't touch this-nya MC Hammer atau Beat It-nya Michael Jackson karena sering diputar di lantai roll skate disco semacam Lipstick dan Marabu.

Lulus SMP, nggak pernah kepikiran masuk SMA 3, bukan apa-apa ini sekolah sudah pasti nggak ke-otak-an hehehe Cita-citanya masuk LIMA yg terkesan asik dengan ekstrakurikulernya. Tapi apa daya NEM tidak memuaskan, entah kebanyakan main entah otak mampunya hanya untuk masuk ke SMA titik titik (dirahasiakan saja yah?). Untungnya ini sekolah nggak kampungan-kampungan amat, lumayan juga lumayan dengan tawurannya hahaha. Kembali ke musik. Punk-rock dan saparakancanya lagi seru-serunya, pengaruhnya masuk juga ke sekolah. Dulu ada konser musik yg konsepnya menjaring band-band rock se-sma se-bandung raya. Seru! Head bank, diving, apalagi kalau lagu-lagunya Sepultura, Metallica, Pearl Jam, Ramones atau minim-minim U2 ada yg bawain, besoknya leher nggak bisa gerak, yg herannya leher semakin nggak bisa gerak semakin bangga. Katanya "Cool, kemarin headbank-nya pasti edan-edanan"

Masih jaman SMA, naiklah ke kelas dua, sebuah periode yg sebulan sekali pasti ada pesta ulang tahun ke-17, pindah dari satu pesta ke pesta ulang tahun yg lainnya. Nasib temenan dengan kumpulan cowo sok-gak-butuh-wanita/ sok-no-woman-no-cry-nya Bob Marley, alhasil di setiap pesta bawaannya memble` dan ujung-ujungnya membuat keonaran yg kalau dipikir-pikir lagi intinya berusaha exist! Tragis dan kemudian merenunglah para pejantan dengan muka penuh jerawat, catat JERAWAT iya jerawat! untuk merubah gaya hidup menjadi sedikit romantis. Padahal nggak ada juga hubungan romantis dengan bisa-dapet-pacar kala itu. Yg penting bisa ngemodif Katana dengan old man emu shock atau bisa mangkas Starlet menjadi sangat ceperrr. Nggak akan ada yg mau dengan tongkrongan bmw (baca: huruf kecil, bebek merah warnanya hehehe basi!) Singkat cerita, terhuyung-huyung kemerduan suara Whitney Houston di soundtrack-nya the Bodygouard, ditambah Saving Forever-nya Shanice dan Love Is-nya Brian McKnight di album Beverly Hills 90210, mulailah terbiasa dengan lagu-lagu cengeng. Mulailah menyenangi ritual curhat. Mulailah ber-sweater rajut. Dan mulailah bernyanyi Acapela dudup subiduppppp dengan barometer Boys II Men, serta grup vocal cowok lainnya semacam Color Me Bad, All For One, dan Jodeci.

Masuk kuliah boro-boro ngikutin perkembangan musik, yg ada lelah praktikum. Lelah yg kalau diinget-inget lagi entah dibuat-buat entah beneran. Lebih senang nongkrong di himpunan yg hobinya tawuran dan dangdutan. Norak? Silahkan beropini. Seandainya saya bisa melantunkan sebait saja lagu gacoan kami, dijamin ketagihan hahaha goyang Erika! Nah terus, biar gaya ceritanya punya mobil (hasil nganjuk hehehe), salah-satu-fungsi pentingnya adalah supaya bisa jalan-jalan sambil dengerin musik. Mau nempel stiker radio remaja, berasa gaul. Mau nempel stiker radio dangdut, berasa kampungan. Mau nempel radio rock, berasa nggak mampu lagi telinga menyerap kebisingannya. Mau nempel stiker kampus, malu ngerusak identitas kampus seandainya parkir di Gang Saritem hehehe. Jadi saja nempel stiker KLCBS, jazz sepertinya lebih keren. Sudah ditempel stiker radio-nya, dipanteng frekuensinya, dinikmati musiknya, jadi sajah sayah teh menyukai jazz. Atuh da kumaha akibat keseringan denger, jadinya kepincut sama Mornin'-nya Al Jarreau, kepincut sama Bad Case of Love-nya BB King, ini blues yah? Ah keneh kehed, jazz dan blues selalu bergandengan.

Musik Musik Musik. Rock memberi kesan macho. Pop memberi kesan gaul. Dangdut memberi kesan udik. Disko memberi kesan have fun go mad. Jazz memberi kesan eksklusif. Don't be trapped by dogma - which is living with the results of other people's thinking. Sorry to be so dramatic, saya hanya butuh sosok kamu seutuhnya. Hidup INUL! hehehe