Thursday, May 27, 2004

Eh you bodat, mengerti tidak?!

Si A: "Goblog ieu supir, edan kieu nyetirna!"
Si B: "Heueuh teu beres yeuh. Emang pindang!"
Si A: "Teu nyaho aing. Lamun di lembur uing mah, ieu supir huluna geus ngagorolong"
Nggak ngerti kan? Ya sudah, nggak perlu ngerti. Itu adalah percakapan antara dua orang yg aku dengar di sebuah bis jurusan Banyuwangi-Denpasar. Mereka berasumsi bahwasanya sang Supir tidak mengerti bahasa Sunda, dan bisa jadi mereka menganggap semua penumpang nggak ngerti bahasa Sunda juga, padahal aya urang. Seandainya sang Supir mengerti percakapan di atas, bisa terjadi pertumpahan darah tuh.

Itu adalah sebuah contoh umpatan menggunakan bahasa asing, dengan harapan yg diumpat nggak ngerti artinya. Ato kalo bukan mengumpat, misalnya ngomongin orang lah. Asik kan? Ngomongin orang menggunakan sebuah bahasa dimana orang yg diomongin, even dia berada persis di depan kita, nggak tau manahu kalo sebenernya lagi diomongin. Bukannya sok suci. Nggak baik lah ngomongin orang, terlebih yg jelek-jelek. Siapa tau yg diomongin tuh ngerti. Mending kalo punya ban hitam, kalo nggak, bisa berabe kan!?

Nah, barusan I and friends makan malam bareng di sebuah resto. Baru malam ini, ada orang Jepang yg melotot asli melotot gara-gara mobil kita masuk parkiran dengan posisi yg nggak bener. Kalo isi mobil kita hanya seorang, bisa jadi pelototan orang tadi dikategorikan sebagai gos-gos-an. Tapi ini tidak! Kita ada bertiga, sementara dia sendirian, dan pelototannya itu loh. Nggak kuat. Kalo orang Sunda bilang ETA JELEMA POLL PISAN. Akhirnya sambil makan kita perbincangkan lah si pemberani tersebut dengan berandai-andai,
Gue: "Eh org tadi bisa jadi Yakuza?"
Temen A: "Emang Yakuza ciri-cirinya kaya gimana?"
Gue: "Jas item jari terpotong."
Temen A: "Nggak semua Yakuza jarinya dipotong kan?"
Temen B (suara dipelankan dgn logat Jawa): "Dul! stop nyebut Yakuza. Bisa jadi di sebelah kita termasuk mahluk itu juga. Ganti aja katanya jadi penjahat."

Ketakutan atas sebuah nama yg penomenal. Sama merindingnya kalo nyebut Nazi dan Hitler di daerah Jerman dan Austria. Saat ngetik inih postingan, aku senyum-senyum nih; kenapa musti takut yah? lawong kita nggak ngumpat kan? Lawong kita nggak ngomongin yg jelek-jelek kan? Kita membicarakan fakta kan? Yg jelas-jelas saja lah! From now on, gue nggak akan ngumpat kalean lagi dengan kata BODAT, iya BODAT! karena DVD Arisan sudah berhasil diterbangkan sampai ke daratan Jepang. Eh you bodat, mengerti tidak?! hehehe

Monday, May 17, 2004

Cerita sekitar Ulang Tahun

Hari itu dua orang teman ku berulangtahun. Mereka dilahirkan dalam hari yg bersamaan. Menurut filsafat China, seharusnya mereka terlahir dengan sifat yg sama karena medan magnet bintang-bintang yg menginduksi persalinan dengan kekuatan sama. "Ahh, itu kan rahasia Tuhan", pikirku. Kenyataannya Andi lebih suka dangdut, berbanding terbalik dengan Dini yg lebih suka Jazz. Dari kegemaran musik saja, sudah bisa ditebak; Andi lebih membumi, Andi lebih easy going, lebih menyukai hal yg sederhana, sedangkan Dini ... Dini lebih complicated, Dini lebih menyukai hal-hal yg dianggap jelimet oleh temen sebayanya.

Setahun setengah aku mengenal Dini, dan dua minggu terakhir ini, hubungan kita tidak begitu baik. Karena itu tadi, lama kelamaan diriku agak sulit mengimbangi pola pikirnya yg semakin rumit diikuti. Katanya diriku tidak pernah berniat menyelami perasaannya. Ketika aku tanya, "Perasaan seperti apa?". Dini hanya bisa menggelengkan kepala, capek capek capekkk. Well, aku suka Dini karena dia nggak gampangan, sangat peka, berbobot dengan sedikit muatan humor di sela-sela keseriusannya. Mungkin secara tidak disadari, Dini menginginkan kepekaan yg sama datang dari ku. Entahlah.

Malam itu, serasa ada yg menegur, seketika aku diingatkan ke Dini. Saat asik-asiknya manghabiskan waktu di acara makan-makan ulang tahun Andi. Jam tangan masih menunjukan pukul 8.00, anak2 masih ngobrol ngalur ngidul di sebuah restoran di Jl. Dago. Aku pamitan untuk keluar lebih awal,
Andi: "Eh mo kemana 'ndok?"
Andi biasa memanggilku Gandok, diambil dari sebuah nama jalan di daerah Ciumbuleuit sana.
Gue: "Gue belon beli hadiah buat Dini. Kalian terusin aja."
Andi: "Eh, jangan lupa bayar bill-nya di resepsionis yah."
Gue: "Monyong! Gue nggak akan ikut makan kalo musti bayar sendiri."
Andi: "hahaha you atur lah hehehe ok good luck."

Gerimis masih belum juga berakhir semenjak sore. Ku nyalakan rokok, ku hisap dalam-dalam, dan mulai berjalan di bawah hujan rintik menuju pusat pertokoan di Jl. Merdeka. Selama perjalanan, aku berpikir keras tentang apa yg pantas ku hadiahkan buat Dini. Mall empat lantai yg paling banyak dikunjungi anak2 Bandung tidak juga memberikan ku ide. CD, ah kompilasi kaset darinya sebagai hadiah ulang tahun ku kemarin rasanya lebih baik, dan kesannya niru. Boneka, ah terlalu kekanak-kanakan. Lingeri, hmmm rasanya belum sedekat itu! Ku putuskan untuk mengunjungi toko buku di seberang mall. Aku cari-cari buku yg paling pantas untuk dijadikan hadiah. Nggak ada ide juga. Sampai akhirnya mata ku terpaut ke sebuah ballpoint cantik yg dipajang di lantai dua toko tersebut. Akhirnya, aku beli ballpoint tersebut walau harganya relatif mahal untuk sebuah alat tulis. "Mudah-mudahan Dini suka", gumam ku.

Sesampai di rumah, aku nyalakan tape, aku putar lagu-lagu cinta; Can't fight this feeling-nya Reo Speedwagon, Anyone at all-Carol King, dll. Aku butuh suasana hening yg bisa menggerakan tanganku dengan lancar di surat pengiring kado. Jam 10 tepat, ballpoint dan surat pengiring terbungkus rapih sudah. "Mudah-mudahan ini kado nggak malu-maluin", gumam ku. Karena hubungan kita yg agak renggang dua minggu terakhir, hari itu, ucapan selamat ulang tahun hanya tersampaikan lewat sms. Selesai dengan urusan kado, kemudian aku telepon Dini.
Gue: "Belon tidur?"
Dini: "hmm belum. Baru jam berapa. Tumben nelpon?"
Gue: "Pengen aja. Nggak boleh?"
Dini: "Terserah kamu lah 'nda. Kamu juga yg habis pulsa."
Selama percakapan, aku sengaja tidak mengungkit-ngungkit hari ulang tahunnya. Pertanyaanku tidak jauh dari apa kabar, hari ini pulang jam berapa and so on. Dan sampai pada pertanyaan,
Gue: "Besok berangkat jam berapa?"
Dini: "Biasa lah. Jam 8-an aku musti absen."
Gue: "Oh jam 7 dari rumah yah?"
Dini: "Kurang lebih."
Gue: "Ok kalo gituh. Tidur gih. Biar besok nggak telat. Aku pengen istirahat juga"
Dini: *dongkol kali yah*
Percakapan telpon yg tidak lebih dari 15 menit berakhir mengambang.
Keesokan harinya, aku bangun pagi-pagi sekali. Sebelum jam 7.00, aku harus sudah berdiri di depan garasi kediaman Dini. Iya, dari semalam aku berencana untuk membuat sedikit kejutan untuknya. Tak disangka-sangka, pagi itu, jalanan dekat kediamannya sangat macet. Angkot merah yg aku tumpangi berjalan merayap dengan kecepatan lebih lambat dari pejalan kaki, padahal waktu hampir menunjukan jam tujuh tepat. Akhirnya aku keluar dari angkot, berlari sekencang-kencangnya, berusaha menggapai kediaman Dini. "Seandainya aku nggak bisa menemui Dini pagi ini, berarti bukan jodoh. Sebaliknya bilamana aku bisa menemuinya, mungkin jodoh (baca pertegas: mungkin jodoh)", pikir ku.

Akhirnya aku sampai di gerbang komplek jam tujuh-an lebih. Padahal dari gerbang ke rumahnya Dini masih sekitar 500 meter-an lagi. Thanks God! Tuhan membuat semuanya terasa indah. Sedan merah yg biasa disetir Dini terlihat dari kejuahan mendekati gardu kompleks. Pasang muka capek, ngos-ngosan, rambut diacak-acak, senyum dikit, akhirnya Dini melihatku dan mengerem mobilnya. Aku pun mendekat dan seketika masuk ke dalamnya.

Dini: "heh, ngapain 'nda?"
Gue: "Mau ketemu kamu lah."
Dini: "Kenapa nggak nelpon dulu? Jadinya aku bisa nunggu? Kalo nggak ketemu gimana?"
Gue: "Nggak jodoh ketemuan."
Seraya mendiskusikan kekonyolan yg mungkin terasa unik. Akhirnya diputuskan untuk mengantar ku terlebih dahulu. Selama di perjalanan, aku belum juga menyinggung kado ulang tahunnya. Sampai akhirnya mobil merapat di pelataran parkir tempat ku belajar. Aku sampaikan kado yg telah disiapkan semalam, diikuti kalimat, "Selamat ulang tahun Din'"
Dini: "Aduhh ma kasih 'nda. Apa nih? Aku buka yah?"
Gue: "Jangan deh! Mendingan kamu buka nanti"
Dini: "Terus?"
Gue: "Ya udah, terima kasih untuk tumpangannya. Kamu berangkat deh, entar telat lagih."
Dini: "Oke. Ma kasih yah."
Gue: *insert icon jeduk-jedukin kepala ke tembok ... kenapa nggak gue kecup!*

Mobil pun melaju menghilang dari pandangan. Dan aku masuk lab lebih pagi dari petugas kebersihan kampus. Tidak lama kemudian, hp berbunyi. Sesuai perkiraan, Dini menelpon.
Dini: "'nda, terima kasih yah kadonya. Beneran. Aku suka banget kadonya. Entar siang, kita makan bareng yah?"
Gue: *elus-elus dada*
Akhirnya kejemuan selama dua minggu terobati. Thanks to so called birthday.

-end story-

Oke, itu hanya sebuah cerita. Mudah-mudahan bisa dinikmati. Untuk beberapa orang, ulang tahun sangat berarti. Malah dijadikan sebagai acuan seberapa deket orang tersebut mengenal kita. Terima kasih buat temen-temen yg inget ulang tahun ku, tanggal 13 kemarin. Yg belum tau, sekalian pemberitahuan. Nggak ada kue, nggak ada tiup lilin, yg ada aku meriang semaleman akibat demam. Bisa jadi cerita di atas, hasil dari halusinasi demam *grins*. Eh katanya, kalo anak-anak sakit di hari ulang tahun, dipercaya sebagai tanda bahwa anak tersebut makin gede. Nah! aku yg udah guede gini, sakit di saat ulang tahun, apanya lagi yg bakalan gede? hehe emang masih nge-gede-in kah? hahaha

Sunday, May 09, 2004

Are you a gay?

Tanpa ada tendensi terselubung berusaha mendeklarasikan who I am. Sejauh ini aku berpikiran bahwasanya aku bisa masuk dlm lingkungan apa pun tanpa harus merasa either canggung, malu atau identitasku terkoyak di mata umum. Dari anak kecil sampai yg tua bangkotan, dari preman sampai akademisi, dari pengangguran sampai eksmud, sampai yg namanya pembokat pun tarik jabrig. Aku nggak mau mengulangi kesalahan semasa remaja dulu, yg kadang merasa malu jalan bareng nyokap ke mall yg ada escalator-nya. Sampai detik ini pun, nyokap ku tuh nggak bisa make escalator sendirian, dgn kata lain musti aku pegangin kalo memang mall tsb tidak menyediakan elevator ato tangga mati. Ceritanya dulu, pada awal2 escalator masuk ke bandung, nyokap pernah menyaksikan seorang wanita jatuh di escalator dan rambutnya terjepit oleh tangga berjalan. Jadi deh trauma. I miss my mom, kangen aku megangin dia kalo terpaksa harus make escalator. I love you mom.

Iya begitulah, mata dan hati ku sempat buta oleh sebuah konsep idealitas, dan akhirnya sulit menyelami sebuah alasan untuk setiap kekurangan manusia. Dampak jelek dari sebuah masa yg terkenal dgn sebutan krisis identitas. Eh aku jadi inget seseorang yg pernah aku ajak pacaran. Sebelum dia ngomong iya, dia balik nanya gini ke aku, "Kok kamu bisa suka aku sih 'nda? Aku kan gendut." Anggap ini sebagai payback kesalahan ku dulu ke nyokap *balaga jadi Onky Alexander sambil kedip2 mata* Hei, bagaimana aku bisa masuk di hati seseorang kalo aku sendiri, yg berhidung bengkak ini, nggak bisa melihat kelebihan dari kekurangan seseorang. Well, those are only physical appearance. Tak kenal maka tak sayang, kenal aja dulu, terus berlayar, dan biarkan bendera sayang berkibar kemudian.

Kembali ke judul, are you a gay? Kemarin malam, seorang teman bule kirim sms isinya gini, "HI Ganda, when will we go to Tenjin? I'm at home, but another fried is waiting in Tenjin." Aku agak nggak ngerti juga maksudnya fried di sini apa. Yg pasti, Tenjin adalah tempat mencari keramaian serba ada di Fukuoka. Nah, ternyata nih bule ngajak temen jepangnya, cowo, yg sudah nunggu di luar pub paling OKE versi aku dan nih bule tentunya. Singkat cerita, aku dan nih bule bersepeda ke lokasi rencana. Setelah sampai tujuan, terlihatlah cowo jepun tersebut. KAGET! Asli KAGET! Tau gaya si sexy Prince kan? Kacamata bening kotak ala Beckham, hem putih, daleman putih, kalung ala Madonna, celana putih cut bray, sepatu sol tebel, plus tas cewe. Prince dan Lenny Kravitz masih mending lah yah, masih ada genteng2nya. Ini! Arghhhh speechless. Yg bikin aku kesel untuk menerima kenyataan adalah sepatu sol tebel dan tas cewenya. Berdasarkan informasi yg sudah aku tau sebelumnya (believe me I like watching people! I won't mistake), itu dandanan ala gay-gay jepun. Aku tanya lah ke temen bule ku inih, "Is he a gay?" Arghhhhh pengalaman pertama jalan bareng gay.

Kembali ke kalimat awal, sejauh ini aku berpikiran bahwasanya aku bisa masuk dlm lingkungan apa pun tanpa harus merasa either canggung, malu atau identitasku terkoyak. Tapi dengan seorang gay di tempat one night stand hunting, boro-boro ada waktu jelasin eh gue lelaki tulen loh. First impression would be ...... *ngetiknya aja males*

Sunday, May 02, 2004

Abon

Pagi itu, terbangunlah diriku dari kasur polka dot. Ku buka jendela kamar, ternyata fajar telah menyingsing tujuh puluh derajat. Ku hirup udara segar sedalam hirupan asap daun surga. Ternyata oh ternyata, udara segar ini membangunkan usus-usus ku yg semalaman ikut menggeliat. Sang usus mulai melantunkan sayup-sayup lagu keroncong. Serasa mendapat umpan bola matang, ku songsong dapur mencari sesuap karbohidrat. Rice cooker kelap kelip memberikan pesan SOS, "makan lah daku wahai pangeran". Sebuah pesan wajar, karena sudah dua hari ini sang nasi bersemayam kepanasan oleh sengatan listrik. Teringat pesan nenek bahwasanya pantang membuang dewi sri, aku ambil piring putih, "beri saya sebuah kecupan oh dewi sri ku sayang". Kutaburkan abon dan snack rasa udang. Ternyata oh ternyata, sang abon rasanya apek. Tanda kemarahan dari sebuah ciptaan Tuhan yg terlalu lama tak disapa. Maafkan daku oh dewi sri ku sayang, bukan hati hendak mencampakkan mu, tapi apa daya sang abon meracuni nafsu makan ku. Eh abon ada kadaluarsanya nggak yah?